“Bagaimana?”,tanya seorang wanita
kepada seorang gadis yang baru saja memasuki halaman rumahnya.
Gadis yang ditanya hanya menunduk
lesu. Wanita itu paham betul apa yang terjadi pada gadis itu.
“sudahlah, lain kali kamu coba lagi, ibu
yakin kamu pasti bisa!”,kata wanita itu menyemangati. Gadis itu pun hanya
tersenyum masam.
“ya sudah, kamu makan saja dulu, pasti
kamu capek kan?”,saran wanita itu. Gadis itu hanya menggeleng.
“aku tidak lapar bu, sekarang aku mau
istirahat saja..”,tolaknya dan melangkah gontai ke kamarnya.
Wanita itu hanya memandang anaknya
sendu dan berdoa dalam hatinya untuk keberhasilan anaknya itu.
“maaf tapi naskah yang anda buat sudah
sering di pasaran, jadi dengan amat sangat terpaksa kami harus menolak naskah
anda”,seorang pria bertutur dengan wajah menyesal kepada gadis berkacamata yang
ada di hadapannya sekarang ini.
Gadis itu hanya tersenyum kecewa. Dia
mengambil lembaran naskah yang ada diatas meja kemudian permisi.
Gadis itu memejamkan matanya,
bayang-banyang kejadian tadi siang masih terekam jelas d memorinya dan sekarang
bayangan itu masih saja berlari-lari di otaknya.
“lagi-lagi aku harus gagal”,dengusnya
menyesal. Dia menghitung dengan jarinya.
“1, 2, 3, heuuhh.. hampir yang
ke-empat kalinya”,kemudian dia kembali mendengus.
Sebegitu jeleknya kah karyanya itu
sampai-sampai tak ada satu pun penerbit yang mau menerbitkan karyanya?
Apakah sebegitu basi-nya cerita-cerita
yang dibuatnya? Atau karna diksinya kurang?
Tapi.. kenapa kata teman-teman
sekolahnya karya yang dibuatnya selalu mendapat tanggapan positif? Apakah
mereka berbohong? Ah, tak mungkin. Teman-teman sekolahnya itu kan orang-orang
yang TERLALU jujur, jadi mana mungkin mereka mengatakan hal yang tidak benar.
Dan Gadis itu ahirnya terlelap dengan
sendirinya.
Tok..tok..tok..
Bunyi ketukan pintu yang terdengar
sangat kasar itu membuat gadis itu terbangun dari tidur lelapnya. Dengan mata
setengah terbuka dan kesadaran yang belum utuh ia membuka pintu kamarnya hendak
memarahi si penganggu tidurnya.
Dan berdirilah dihadapannya 2 sosok
penganggu tidurnya dengan senyum menyeringai senang.
Dengan muka masam ia kembali ke lautan
penuh kapuk.
“Reta....,jangan tidur lagi
donk!”,teriak salah satu penganggu itu sambil menarik sebelah tangannya.
“aku ngantuk banget Nena.., biarin gue
tidur 5 meniiit aja..”,ujarnya memohon sambil terus manahan posisi tidurnya.
“pokoknya nggak bisa! Kamu nggak boleh
tidur lagi!”,paksa si penganggu yang bernama Nena tadi.
“udahlah Na, biarin aja dia tidur,
Cuma 5 menit ini..”,bela si penganggu tidur yang satunya. Nena hanya mendengus
mendengar perkataan kembarannya itu.
“Rakka! Tapi kan ini udah soree, kalau
dia tidur sampe pagi gimana? Dia belum makan dari tadi siang, nanti kalau dia
sakit gimana?”,Nena memberikan seruntutan argumen.
“Nena! Bisa diam nggak sih?? Iya nih
aku bangun! Berisik dengerin kamu!”,kata si Gadis tadi dengan malasnya dia
mendudukan dirinya di pinggiran ranjangnya. Nena hanya tersenyum penuh
kemenangan, sedangkan Rakka, kembarannya hanya tersenyum masam kepada sang
Gadis.
“mau apa sih kalian kesini?”,tanya
Reta sedikit ketus. Ia memang paling tdak suka ada orang yang menganggu jatah
tidurnya.
“nyeeh, kok gitu sih nanyanya?? Nggak
suka kita ada disini??”,sungut Nena. Reta kelimpungan sendiri.
“ya, maksud aku... ya maksud aku nggak
gituu... kalian tahu kan kalo aku tuh paling nggak suka kalau tidur aku
terganggu, tadi malem aku baru tidur jam 4 pagi dan bangun jam 7 dan sekarang
aku ngantuk banget”,jelas Reta.
“oh, kasian banget nona kecil yang
satu ini...”,ucap Rakka mendramatisir. Reta melotot tajam ke arah Rakka.
“jangan panggil aku nona kecil,
Tuan!”,kata Reta galak. Rakka hanya menyeringai.
“ya maaf deh, ini juga tadi disuruh
sama ibu kamu ta..”,kata Nena menyesal. Reta hanya menganggukan kepalanya tanda
mengerti bahwa ini pasti ulah ibunya yang kelewat perhatian itu.
“by the way, bagaimana
hasilnya?”,tanya Nena sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, berharap agar dia
mendapatkan berita bagus kali ini dan berita itu akan membuatnya tercengang.
Ekspresi muka Reta makin keruh. Rakka
dan Nena menyadari ada sesuatu yang tidak bagus.
“ok, lupakan! Aku Cuma iseng kok
nanyanya.. ehmm, gimana kalau sekarang kita jalan?”,ucap Nena menetrlisir
keadaan. Rakka hanya mengangguk setuju dan Reta hanya sedikit menarik sudut
bibirnya.
“yeah! Let’s go! Aku ajak Putra juga
sekalian!”,kata Nena semangat dan mengambil ponselnya.
**
Mereka sampai di starbucks, dan mereka
memilih duduk di sebelah jendela, meja untuk empat orang. Putra–pacar Nena-
sampai disana 10 menit setelah mereka sampai.
Reta hanya mengaduk-aduk Espresso-nya sedari tadi dengan tak bersemangat. Nena, Rakka dan Putra hanya memandangnya nanar.
“ehmm ta, jangan diem aja donk!
Ngomong sih! Kita kan enggak enak kalo kamu diem mulu dari tadi!”,desak Nenaa tak
tahan.
“aku nggak papa kok Ne, kamu tenang
aja!”,balas Reta sambil menyunggingkan senyumnya sekilas. Nena, Rakka dan Putra hanya berpandangan saling bertanya dengan kode mata, namun tetap saja tak ada
jawaban.
Rakka bangkit dan kembali memesan.
Dan tidak lama seorang pelayan menghampiri meja mereka.
“disini mana yang namanya mbak Reta ya?”,tanya pelayan itu. Reta mendongak. “saya, ada apa ya?”,tanya Reta heran.
“ini pesanan untuk mbak Reta..”,jawab
pelayan itu sambil meletakkan muffin coklat di hadapan Reta. Reta tersenyum dan
tak lupa mengucapkan terimakasih.
“dari siapa sih ini?”,tanya Reta kepada ketiga temannya. Mereka hanya mengangkat bahu sambil tersenyum penuh
arti.
“kok ada kertasnya?”,tanya Reta heran, pasalnya di bawah muffin itu terdapat secari kertas. Reta membukanya.
Ada yang pernah berkata
padaku bahwa coklat adalah penghilang stres yang hebat dan aku aku berharap
perkataan itu benar adanya maka dari itu aku memberimu muffin rasa coklat
karena aku ingin kamu menghilangkan bebanmu itu, aku ingin melihat senyummu.
Karena ada salah seorang bijak berkata: Saat
kamu terjatuh tersenyumlah. Karena orang yang pernah jatuh adalah orang yang
tengah berjalan menuju keberhasilan.keep smile Re! J Mr.R
Reta tersenyum kala membuka
kertas itu.
“thanks ya, kalian udah bikin berusaha bikin aku senyum lagi, aku
hargai usaha kalian semua..”,kata Reta sembari tersenyum.
“sama-sama Re.. gini nih baru Reta yang aku kenal, Reta yang
nggak pernah putus asa! Reta yang selalu semangat dan ceria!”,balas Nena.
“kalian emang sahabat aku yang paling baik, karna itu aku sayang
banget sama kalian..”,ucap Reta terharu.
“thanks ya Kka, ini so sweet banget
sumpah! You’re the best boys!”,tambah Reta terkhusus kepada Rakka.
“you’re welcome, abisnya aku nggak tahan liat muka kamu yang
ditekuk berlipet-lipet kayak gitu, jelek tau!”,balas Rakka.
“ih, Rakka mah gitu banget! Tadi aja so sweet sekarang mah
kagak!”,dengus Reta kesal. Dan Mereka semua tertawa.
“Ada orang bijak yang pernah berkata Apapun yang terjadi jangan
dijadikan beban. Berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan dan yakin Tuhan telah
merencanakan yang terbaik”,ucap Rakka ketika mereka berempat sedang duduk di
atas kap mobil Rakka sambil memandang langit.
“so, intinya kamu jangan pernah nyerah Ta! Kalo kamu suka nulis
lanjutin aja hobi kamu, masalah naskah mau diterima atau enggak itu urusan
belakangan, yang penting kamu bisa menyalurkan ide-ide kamu itu, daripada ide
itu terus mengendap di otak kamu kan lebih baik diekspresikan”,jelas Putra.
Reta hanya tersenyum memandangi wajah sahabat-sahabatnya itu. “aku
nggak tahu harus ngomong apa lagi sama kalian, yang jelas makasih banget udah
dukung aku, udah hibur aku dan makasih karena kalian terus ada di samping aku
menjadi lilin penerang yang selalu menerangi hidupku..”,ucap Reta haru.
“we are the best friend, right?”,tanya Nena meminta persetujuan.
“yeah! That’s true!”,ucap Putra, Rakka dan Reta setuju.
Siapa lagi yang akan ada di samping kita saat kita rapuh? Sahabat
bukan?
Siapa lagi yang yang akan mendorong kita saat kita terpuruk?
Sahabat bukan?
Dengarkanlah apa yang dia katakan selama itu benar, karena yang
mereka katakan itu yang terbaik untuk kita.
Dan Hidup
akan lebih bermakna dengan hadirnya keluarga & para sahabat kita. Sayangi
mereka & jangan menyakitinya.
FIN

0 komentar:
Posting Komentar